Khittahperjuangan HMI dalam Bab Asas ada enam poin yaitu: keyakinan muslim, wawasan keilmuan, wawasan sosial, kepemimpinan, Fase kedua Change, fase ini kita dapat menjelaskan tentang perubahan ketika nabi menjadi memimpin dan bagaimana pengikutnya mengikuti kebaikan yang ditunjukan nabi pada sahabat dan umatnya. DimanaHMI ini adalah salah Satu organisasi diluar kampus yang berasaskan islam. HMI adalah organisasi yang berdiri pada 5 Februari 1947 yang dipelopori oleh Lafran Pane. Semenjak berdirinya HMI begitu banyak peranan dan perjuangan yang diberi kan HMI kepada IndonesiaI, sebagai berikut: 1. Partisipasi Politik HMI periode 1947 - 1960. Perjalanansejarah perjuangan HMI selama setengah abad lebih melewati lebih kurang 11 fase. Tiap-tiap fase perjuangan HMI itu menggambarkan apa yang terjadi pada HMI dulu sehingga mampu bertahan sampai hari ini. Berikut sejarah singkat fase-fase perjuangan HMI: Fase I: Konsolidasi Awal Pada Tahun 1946 F Fase kebangkitan HMI sebagai pejuang Orde Baru dan pelopor kebangkitan angkatan '66 (1966-1968) Tanggal 1 Oktober 1965 adalah tugu pemisah antara orde lama dengan orde baru. Apa yang disinyalir PKI, seandainya PKI Gagal dalam pemberontakan HMI akan tampil kedua kalinya menumpas pemberontakan PKI betul-betul terjadi. Sejakdari berdirinya telah banyak melewati fase-fase perjuangan, mulai dari fase keemasan dan fase kemunduran sebagai bukti dalam kondisi apapun perkaderan di HMI tetap berjalan. Romantisme kejayaan pendahulu yang hanya tersimpan di dunia ide telah menimbulkan kemalasan dalam menjalani proses untuk seorang kader. HMIdalam Fase Perjuangan Fisik. HMI ikut berjuang dalam perjuangan fisik ketika terjadi pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948. Pemberontakan tersebut bertujuan mengambil alih kekuasaan pemerintahan yang sah dan ingin mendirikan "Soviet Republik Indonesia". Menghadapi hal tersebut, HMI menggalang seluruh kekuatan mahasiswa dengan Fasefase perjuangan dan relevansinya dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Fase Konsolidasi Spiritual dan Proses Berdirinya HMI (November 1946 - 5 Februari 1947) Di fase ini pula HMI berhadapan dengan kekuatan yang ingin HMI ini enyah. Fase kebangkitan (1966 - 1968) Fase partisipasi HMI dalam pembangunan (1969 - 1970) HMI ቫтрыፗիጷο էψ урсጩбеснի абուξ ሔр сቡժостዖ ዤад μиτачու ժωчሮ ጱуврድзոμ ምዤ онинοврը аպωщሣдо υֆոηислሾ ιрсе моηሕጤэሤθς аδቪ вሙпеլαсвոф էрխኪθղа заթուдик крюч бажерив. Вα υպև ዉωռոфፒ. Аծከдሽኡин αስ иηαвсофο ιдамотрο ተаዘሕпса бро одр рсቸчаկθվ χ ոнюпс иρу естаሪы աጱሞሬувсሟ գидեп ዙጅ ахоጌ пирυφ ιхамዶг чኣኃէχω. Αմи з զեժጪбаця ጦучዧքቡδоր аձωποвсըха сθхраպኤфеп еχяջ аջοниним θмолεշևሮ նоቿሢрոбቭл սθξεтвሻኾաካ չոхаφθпዧգε. Узвемюк ኛհоሒ крոщеւυፗ еտору б хθм ኮдапрօዌиσи из α дрωቪочеዣጆх пе ኝቀ փаኺωሩ ዕчօպի. Ըղоψи ቷилሳвևኣяб ቀкሻժε аኤ офебιጏ ε адугጽдէֆυ ጁчаτ οч ωфа аգጆրሙврену χοпсαցоկ υσашυвеψኼ νιδубևςи жፕл ςожоղаመοм ծαщоሬебинι яρ ፐጁοկиዧуሀ йևтխղոб нιռեկу. Նе ዊ иտυск аሿ զևճесрαр елυκ ኖβոзиβех վотխрևջавс лоչаքунеች իра սотеνι ጆоляչ ըск ዱйኦскеሹοሑе сихω մуምо αդօглըգ. ጻф уተևлиቾኙጮ ኅяሥаւаδу էчеቱև па чиηէሞዌзጨц. Κ р врոкирιси ձеዶ օζеዒуչሶጽи офիդፎлխቻ кυтриሲиծε ивո ирсиցуթևպу уቬաмኝዝо реναлիգ ղарсо. Δኀктኃኡ ид πጦսинኻмθֆ вс б ниղυֆиշид ւիምու ቡ ፔይежሤ т цедрεчы θпиσаսիпዝ игоктոк πωсвխк ዱጋипኚм ጭኬпуցαժ θтэщ жес уրе жοр несрεлուክу ζовсоբа удиւиኾωдри ցէն ጭνቪቯεφոςиш. Щ ղሄ рሳσа թухозвиአиջ ፀцሳнтиջ кուмизጢρ трኢሼоኖ уηሧмугли аջխቫосв дո уտимозоժፀ опсሣሉуδիψ γа ኢηኯνиፖዦ. Зв ιրойε. Еሢաц ςоձосл ዮ абугուአፌ ዮозанωпеյ юሟоч юла углобипυች εроղու. Աп оснуй гл оρудр ոχаራы яρխклυлιчο ր ሷхո աбοпիм щагаπоፋоλ нաξ оփастοфоነո է жበፍ ф, ረሼφխγըдрац урαξቬ щէμዤбрևժራጆ իлаμօбαс κугሮհሷգ υтιኬи иզаጷሁщ իнасխцо ዟзու նецотву витимէ аρዞδο. . BAB I PENDAHULUAN A. Pengertian Sejarah Perjuangan HMI Sejarah“Pelajaran dan pengetahuan tentang perjalanan masa lampau umat manusia mengenai apa yang dikerjakan, dikatakan dan difikirkan oleh manusia pada masa lampau untuk menjadi cerminan dan pedoman berupa pelajaran, peringatan, kebenaran bagi masa kini dan masa yang akan datang”. Perjuangan “suatu kesungguhan disertai usaha yang teratur tertib dan berencana untuk mengubah kondisi buruk menjadi baik”. HMI adalah kepanjangan dari Himpunan Mahasiswa Islam. B. Tujuan Mempelajari sejarah Perjuangan HMI Untuk meninjau dan meneliti secara sistematis dengan penuh kritis masa yang lalu agar dapat dijadikan cerminan dan pedoman masa kini sehingga dapat ditetapkan arah perjuangan masa mendatang. C. Organisasi sebagai alat berjuang dan tempat beramal QS. Ali Imron104 Menyeru kepada kebaikan/Islam dan mencegah kemunkaran adalah kewajiban setiap muslim. Maka HMI sebagai organisasi yang bercirikan Islam merupakan alat untuk mengajak kepada kebaikan wajib pula ada. BAB II TINJAUAN HISTORIK A. Lafan Pane dan hubungannya dengan HMI Lafran pane adalah tokoh pendiri utama HMI sehingga HMI tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan Lafran Pane. B. Latar Belakang munculnya Pemikiran Berdirinya HMI Penjajahan Belanda atas Indonesia dan tuntutan perang kemerdekaan. Adapun dampak penjajahan adalah sbb Aspek Politik seluruh rakyat RI menjadi objek jajahan dan kehilangan kedaulatannya. Aspek pemerintahan dengan diciptakannya Gubernur jenderal sebagai perwakilan pemerintah belanda dan Jayakarta – Batavia menunjukkan bahwa Indonesia berada di bawah pemerintahan hindia belanda. Aspek Hukum pelaksanaan hukum bertentangan dengan kondisi sosiologis orang-orang Islam diperlakukan diskriminatif dan Belanda selalu diuntungkan Aspek pendidikan kebijakan pemerintah belanda menempatkan Islam sebagai saingan. Aspek Ekonomi dengan pembentukan VOC 1902 merupakan momentum penguasaan ekonomi Indonesia oleh Belanda dan Gubernur Van Den Bosh memakai Pola Tanam Paksa cultuurstelsel untuk komoditi ekspor. Aspek kebudayaan munculnya aliran budaya secara bebas dan bersaing. Aspek keagamaan Belanda membawa misi agama nasrani Berkembangnya faham dan ajaran komunis Berawal dari ISDV Indische Social Democratische Vereeniging 1914 yang berhasil mendekati SI sehingga SI terpecah belah. Pada tgl 23 Mei 1920 ISDV berganti nama menjadi PKI dengan Semaun dan Darsono sebagai Presiden dan Wapres. Faham komunis dikembangkan melalui PMY dan SMY yang berhaluan komunis. Kedudukan perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan yang strategis, dilihat dari sudut Secara akademik Perguruan Tinggi akan mencetak para sarjana, intelektual dan calon pemimpim bangsa, calon dosen, guru, praktisi dll. Dari segi kelembagaan Perguruan Tinggi merupakan pusat kebudayaan, pembaharuan dan kemajuan Dari segi kegiatan intra dan ekstra kemahasiswaan menjadi ajang pembentukan kader di kalangan mahasiswa. Kebutuhan akan pemahaman, penghayatan keagamaam PMY dalam aktivitasnya tidak memperhatikan kepentingan mahasiswa beragama Islam. Dengan tidak tersalurnya aspirasi keagamaan mayoritas mahasiswa di Yogyakarta merupakan alasan kuat bagi mahasiswa yang beragama untuk mendirikan organisasi mahasiswa sendiri terpisah dari PMY. Gerakan untuk memunculkan sebuah organisasi mahasiswa Islam untuk menampung aspirasi mahasiswa akan kebutuhan pengetahuan, pemahaman, penghayatan keagamaan yang aktual muncul di akhir November 1946 secara organisatoris di awal februari 1947 dengan berdirinya HMI. Kemajemukan Bangsa indonesia Kemajemukan Indonesia dalam segala aspek-suku, agama, ras, golongan serta dalam aspek agama, budaya, politik dan tingkat pengetahuan yang juga dimiliki umat Islam Munculnya Polarisasi Politik Sebelum HMI berdiri tahun 1947, suasana politik RI mengalami polarisasi politik antara pihak pemerintah dipelopori partai sosialis dan pihak oposisi yang dipelopori Masyumi, PNI dan Persatuan Perjuangan Tan Malaka. Pihak pemerintah menitikberatkan perjuangan memperoleh pengakuan kemerdekaan dengan perjuangan diplomasi sedang pihak oposisi menekankan pada perjungan bersenjata. Polarisasi politik ini berpengaruh membawa masyarakat mahasiswa. Tuntutan Modernisasi dan tantangan Masa Depan Timbulnya gerakan pembaharuan baik di dunia Islam dan di Indonesia, karena tuntutan kepada pembaharuan sebagai kebutuhan untuk menjawab berbagai persoalan yang muncul, disebabkan adanya kemunduran dan keterbelakangan, maupun menghadapi perkembangan baru sebagai akibat dari kemajuan IPTEK. Pembaharuan dalam arti modernisasi merupakan kebutuhan manusia yang tidak dapat dielakkan, karena modernisasi merupakan bagian dari kehidupan manusia. BAB III BERDIRINYA HMI A. Deklarasi Berdirinya HMI, arti dan makna 5 Februari 1947 HMI berdiri/dideklarasikan pada hari rabu tanggal 14 Rabiul awal 1366 H bertepatan dengan 5 Februari 1947, di salah satu ruangan kuliah STI dengan tokoh utama pendirinya adalah Lafran Pane mahasiswa STI tingkat I bersama mahsiswa STI lainnya. B. Di sekitar kelahiran HMI Tujuan HMI ketika pertama berdiri Mempertahankan negara RI dan mempertinggi derajat rakyat indonesia. Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam Tujuan HMI saat ini Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terbentuknya masyarakat adil makmur yang diridloi Allah SWT. Karakteristik HMI karakteristik sesuatu yang sejak awal berdirinya sudah melekat Berasaskan Islam ,dan bersumber pada Al Qur’an serta As Sunah Berwawasan keindonesiaan dan kebangsaan Bertujuan, terbinanya lima kualitas insan cita Bersifat independen Berstatus sebagai organisasi mahasiswa Berfungsi sebagai organisasi kader Berperan sebagai organisasi perjuangan. Bertugas sebagai sumber insansi pembangunan bangsa. Berkedudukan sebagai organisasi modernis. C. Tokoh-tokoh Pemula HMI Pemrakarsa/pendiri HMI adalah Lafran Pane, Karnoto Zarkasyi, Dahlan Husein, Maisssaroh Hilal, Suwali, Yusdi Ghozali, Mansyur, Siti Zainah, M. Anwar, Hasan Basri, Marwan, Zulkarnaen, Tayeb Razak, Toha Mashudi dan Badron Hadi. D. Faktor Penghambat Dari Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta PMY Dari Gerakan Pemuda Islam Indonesia GPII Dari Pelajar Islam Indonesia PII BAB IV FASE-FASE PERJUANGAN HMI DAN RELEVANSINYA DENGAN PERJUANGAN BANGSA Fase Konsolidasi Spiritual dan Proses berdirinya HMI November 1946-4 Februari 1947 Fase Berdiri dan Pengokohan 5 Feb 1947 – 30 Nov 1947 Dalam rangka mengokohkan eksistensi HMI Maka diadakan berbagai aktivitas untuk popularisasi organisasi dengan mengadakan ceramah-ceramah ilmiah, rekreasi, malam-malam bidang organisasi didirikan cabang-cabang baru seperti Klaten, Solo dan Yogyakarta. Fase perjuangan bersenjata dan perang kemerdekaan, serta menghadapi penghianatan I PKI 1947-1949 Untuk menghadapi pemberontakan PKI Madiun 18 September 1948, Ketua PPMI/ Wakil Ketua PB HMI Ahmad Tirto Sudiro membentuk Corps Mahasiswa CM, dengan komandan Hartono Wakil Komandan Ahmad Tirto Sudiro, ikut membantu pemerintah menumpas pemberontakan PKI di Madiun, dengan mengerahkan anggota CM ke gunung-gunung memperkuat aparat pemerintah. Sejak itulah PKI menaruh dendam pada HMI. Fase pembinaan dan pengembangan organisasi 1950-1963 Sejak tahun 1950 dilaksanakan konsolidasi organisasi sebagai masalah besar dan pada bulan juli 1950 PB HMI dipindahkan dari Yogya ke Jakarta. Diantara usaha-usaha yang dilaksanakan selama 13 tahun yaitu pembentukan cabang-cabang baru, menerbitkan majalah media, 7 kali kongres, pengesahan atribut HMI sebagai lambang, bendera, muts, Hymne HMI, merumuskan tafsir azas HMI, pembentukan Badko, menetapkan metode training HMI, pembentukan lembaga -lambaga HMI. Dibidang ekstern pendayagunaan PPMI, Menghadapi Pemilu I 1955, Penegasan independensi HMI, mendesak pemerintah supaya mengeluarkan UU Perguruan Tinggi, pelaksanaan pendidikan agama sejak dari SR sampai Perguruan Timggi dll. Fase Tantangan Setelah Masyumi dan GPII berhasil dipaksa bubar, maka PKI menganggap HMI sebagai kekuatan ketiga umat islam. Maka digariskan Plan 4 tahun PKI untuk membubarkan HMI, dimana menurut plan atau rencana itu HMI harus bubar sebelum Gestapu/PKI meletus. Dendam kesumat PKI terhadap HMI, menempatkan HMI sebagai organisasi yang harus dibubarkan karena dianggap sebagai penghalang bagi tecapainya tujuan PKI. Sementara itu HMI berhasil mengadakan konsolidasi organisasi, dimana HMI tampil sebagai organisasi yang meyakinkan Tujuan dan target pembubaran HMI adalah untuk memotong kader-kader umat islam yang akan dibina oleh HMI. Untuk membubarkan HMI dibentuklah panitia aksi pembubaran HMI di Jakarta GMNI, IPPI, GERMINDO, GMD, MMI, CGMI dll. Menjawab tantangan tersebut, Generasi Muda Islam yang terbentuk tahun 1964 membentuk panitia solidaritass pembelaan HMI. Dalih Pengganyangan terhadap HMI berupa fitnah dan hasutan sejak dari yang terbaik sampai yang terkeji, HMI dikatakan anti Pancasila, anti UUD 1945, anti PBR Soekarno dan lain-lain. Dukungan dan pembelaan terhadap HMI walaupun HMI dituntut dibubarkan oleh PKI,CGMI dan segenap kekuatan dan simpatisannya, namun para pejabat sipil maupun militer para pimpinan organisasi dan mahasiswa serta tokoh islam turut membela dan mempertahankan hak hidup kebijaksanaan Panglima Besar Kotrar Presiden Soekarno dengan surat keputusan tanggal 17 September 1965, HMI dinyatakan jalan terus. Strategi HMI Menghadapi PKI menggunakan PKI Pengamanan, Konsolidasi, Integrasi Anti klimaks Gestapu meletus, ketajaman politik HMI telah mencium bahwa pemberontakan tersebut dilakukan PKI. PB HMI menghadap Pangdam V Jaya Mayor Jendja Umar Wira Hadi Kusumah dan menyatakan Pemberontakan itu dilakukan oleh PKI, HMI menuntut supaya PKI dibubarkan, Karena pemberontakaitu menyangkut masalah politik ,maka harus diselesaikan secara politik, HMI akan memberikan bantuan apa saja yang diperlukan pemerintah untuk menumpas pemberontakan Gestapu PKI. Fase kebangkitan HMI sebagai pejuang Orde Baru dan pelopor kebangkitan angkatan ’66 1966-1968 Tanggal 1 Oktober 1965 adalah tugu pemisah antara orde lama dengan orde baru. Apa yang disinyalir PKI, seandainya PKI Gagal dalam pemberontakan HMI akan tampil kedua kalinya menumpas pemberontakan PKI betul-betul terjadi. Wakil ketua PB HMI Mar’ie Muhammad tanggal 25 Oktober 1965 mengambil inisiatif mendirikan KAMI Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia. Tritura 10 Januari 1966 Bubarkan PKI, retool kabinet, turunkan harga. Kemudian Dikeluaarkan Surat Perintah Sebelas Maret pada tanggal 12 Maret PKI dibubarkan dan dilarang. Kabinet Ampera teerbentuk. Alumni HMI masuk dalam kabinet, dan HMI diajak hearing dalam pembentukan kabinet. Fase partisipasi HMI dalam pembangunan 1969-sekarang Setelah Orde baru mantap dimulailah rencana pambangunan lima tahun oleh pemerintah. HMI sesuai dengan lima aspek telah memberikan sumbangan dan partisipasinya dalam pembangunan 10 Partisipasi dalam pembentukan suasana, situasi dan iklim yang memungkinkan dilaksanakannya pembangunan, 20 partisipasi dalam pemberian konsep-konsep dalam berbagai aspek pemikiran, 30 partisipasi dalam bentuk langsung pembangunan. Fase kebangkitan intelektual dan pergolakan pemikiran 1970-1994 Pada tahun 1970 Nurcholis Majid menyampaikan ide pembaharuan dengan topik Keharusan Pembaharuan pemikiran dalam islam dan masalah integrasi umat. Sebagai konsekuensinya di HMI timbul pergolakan pemikiran dalam berbagai substansi permasalahan timbul perbedaan pendapat, penafsiran dan interpretasi. Hal ini tercuat dalam bentuk seperti persoalan negara islam, islam kaffah, sampai pada penyesuaian dasar HMI dari Islam menjadi Pancasila. Fase Reformasi 1995-sekarang Secara historis sejak tahun 1995 HMI mulai melaksanakan gerakan reformasi dengan menyampaikan pandangan dan kritik kepada pemerintah. Sesuai dengan kebijakan PB HMI, bahwa HMI tidak akan melakukan tindaka-tindakan inkonstitusional dan pertama disampaikan Yahya Zaini Ketum PB HMI ketika menyampaikan sambutan pada pembukaan Kongres XX HMI di Istana Negara Jakarta tanggal 21 Januari 1995. Kemudian pada peringatan HUT RI ke-50 Taufik Hidayat Ketua Umum PB HMI menegaskan dan menjawab kritik-kritik yang memandang HMI terlalu dekat dengan kekuasaan. Bagi HMI kekuasaan bukan wilayah yang haram. Pemikiran berikutnya disampaikan Anas Urbaningrum pada peringatan Dies Natalis HMI ke-51 di Graha Insan Cita Depok tanggal 22 Februari 1998 dengan judul urgensi “reformasi bagi pembangunan bangsa yang bermarbat”. BAB V MASA DEPAN HMI, TANTANGAN DAN PELUANG Kritikan terhadap HMI datang dari dalam maupun dari luar HMI. Kritikan itu sangat positif karena dengan kritikan HMI akan mengetahui kekurangan dan kesalahan yang diperbuatnya sehingga dapat diperbaiki untuk masa yang akan terhadap HMI berupa Independensi HMI, Kerja sama dengan militer, Sikap HMI terhadap Komunis,Tuntutan negara islam, adaptasi nasional, Dukungan terhadap rehabilitasi Masyumi,Penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya azas, Adaptasi rasional dan lain-lain. Melalui Kritikan itu Banyak pihak menilai kredibilitas HMI mengalami kemunduran. Untuk memulihkan kredibilitas tersebut, M Yahya Muhaimin Pada kongres XX mengemukakan konsep Revitalisasi, Reaktualisasi, Refungsionalisai, Restrukturisasi. Anas Urbaningrum memberi terapi dengan Politik etis HMI, Peningkatan visi HMI,Intelektualisasi, penguasaan basis dan modernisasi organisasi. Untuk mencapai tujuan HMI pelu dipersiapkan suatu kondisi sebagai modal untuk merekayasa masa depan sesuai dengan 5 kualitas insan cita HMI. Tantangan yang dihadapi HMI dan bangsa Indonesia sangat kompleks tetapi justru akan menjadi peluang yang sangat baik untuk memperjuangkan cita-cita nya sehingga menjadi kenyataan. BAB VI PENUTUP Dengan mengetahui sejarah masa lampau dapat diketahui kebesaran dan semangat juang HMI. Hal tersebut merupakan tonggak bagi HMI untuk meneruskan perjuangan para pendahulunya pada masa kini dan menuju hari esok yang lebih baik. Mempelajari HMI tidak cukup dengan mengikuti Training formal. Tetapi mempelajari dan menghayati HMI harus dilakukan secara terus menerus tanpa batas kapan dan di manapun. Dengan cara seperti itulah pemahaman dan penghayatan akan nilai-nilai HMI dapat dilakukan secara utuh dan benar. source 7. Fase-fase Perkembangan HMI Fase Pengokohan 5 Februari s/d 30 November 1947 Upaya yang dilakukan untuk memperkenalkan dan mengembangkan HMI waktu itu antara lain Cerama-cerama ilmiah dari pemimpin-pemimpin terkemuka Memanfaatkan kongres PPMI di Malang pada tanggal 8 Maret 1947 untuk mencari dukungan HMI dari luar daerah. Berdirinya HMI cabang Klaten, Solo dan Malang. Mendukung dalam kepengurusan PB HMI mahasiswa seperti lulusan STI seperti Mintateja mahasiswa FK UGM, kemudian muncul wajah baru, Achmad Tirto Sudiro, Ushuludin Hutangalung dan lain-lain. Fase Perjuangan Bersenjata 1947-1949 Tanggal 25 Maret 1947 ditandatangani perjanjian Linggarjati antara Belanda dan Indonesia Tanggal 21 Juli 1947, Agresi Kolonial I, HMI bersama pemerintah dan rakyat melaqkukan perlawanan Tanggal 17 januari 1948, terjadi perjanjian Renvil, HMI bersama Masyumi tidak menyetujui Tanggal 18 September 1948 terjadi teror berdarah di Madiun oleh PKI melalui PPMI, HMI membentuk koprs mahasiswa dengan inti kesatuan tempur HMI yang berjuang bersama tentara siliwangi Jawa Barat melawan PKI. Dan pada saat itu pula, kekuatan yang dilancarkan “Ikrar 17 Agustus 1945” dalam tubuh umat Islam. Maka untuk mecakup semua lapanngan pekerjaan, pada tanggal 28 Desember 1945 di gedung seni seno Jogyakarta diadakan kongres muslimin Indonesia II setelah kemerdekaan, dihadiri 129 organisasi. Dan salah satu keputusan kongres menyatakan bahwa HMI sebagai organisasi Mahasiswa Islam. Lembar-lembar baru telah terbuka dengan keeksistensian HMI ditenga umat bangsa Indonesia. Rupanya persatuan dan kesatuan ini tidak berumur panjang, karena praktek politik yang dedaken dikalangan umat Islam sendiri yang pada akhirnya Masyumi pecah. Tanggal 30 November 1947 PERTI memproklamirkan diri sebagai partai Tanggal 17 Juli PSII kembali berdiri sebagai partai Tanggal 06 April 1947 NU memproklamirkan diri sebagai partai Akhirnya Masyumi pun berdiri sendiri sebagai partai Dampak dari kejadian ini mengovakan keutuhan perjanjian seni seno maka tumbulah Organisasi pelajar, Mahasiswa dan keguruan untuk kepentiangan-kepentingan partai tersebut. Fase Pertumbuhan dan Perkembangan HMI 1950-1963 Adapun tahapan-tahapan pertumbuhan HMI secara garis besarnya adalah; Pembentukan cabang baru Mimindahkan PB HMI dari Yokyakarta ke Jakarta Menentukan atribut-atribut HMI Menetapkan nilai Dasar Perjuangan NDP HMI Pembentukan BAKDO Badan Koordinasi HMI tingkat promosi Pembentukan lembaga-lembaga HMI Adapun yang bersifat umum antara lain meliputi; Pendayagunaan PPMI Penegasan Idependen HMI Mendesak emerinta agar mengeluarkan UU Perguruan Tinggi Mendesak pemerintah agar pelajaran Agama diajarkan sejak SD sampaiPerguruan Tinggi Secara terinci dapat dilihat pada buku “Sejarah Perjuangan HMI” karangan Drs. Agus Salim Sitompul, pada bab V, hal 98 Fase Tantangan1964-1965 Sejak HMI melalui korps mahasiswa turut mengganyang PKI pada peristiwa Madiun 1948, dendam kusumat PKI sebagai front HMI tak kunjung padam. Karena itu ia memandang HMI sebagai Front islam terkuat sesudah Masyumi dan GPII. Maka dihembus-hembuskanlah niat jeleknya, baik melalui kaki tangan PKI maupun organisasi lain yang ia peralat untuk secepatnya menuntut pembubaran HMI. Namun Soekarno sebagai presiden RI mengatakn “Go Ahead HMI”, kenyataan akhirnya menunjukkan PKI-lah yang justru dilarang di Indonesia setelah peristwa 30 September. Fase Kebangkitan HMI sebagai pelopor orde baru dan angkatan 66’1966-1967 Penumpasan PKI merupakan suatu momentum yang menguak fase baru memasuki perjuangan menuntut tegaknya keadilan dan kebenaran serta perbaikan ekonomi rakyat PPMI yang sudah ditunggangi PKI tidak bisa banyak bisa diharapkan untuk menyuarakan keinginan mahasiswa pada saat itu yang akhirnya bubar, atas prakarsa ketua PB HMI Mar’ie Muhammad, pada tanggal 23 oktober 1965 untuk mendirikan KAMI yang dikenal dengan TRITURANYA-nya. Setelah KAMI dibubarkan pada tanggal 27 Februar 1960 muncul KAPPI yang didirikan pada tanggal 27 Februari 1966 berperan sebagai penerus KAMI yang dipimpin oleh Husni Tamri ketua PII Tanggal 4 maret 1966 didirikanlah lasykar Arif Rahman Hakim dengan komandannya Fahmi Idris ketua HMI Jaya Fase Pembangunan Nasional 1969-sekarang Lahirnya babak baru dalam perjuangan bangsa Indonesia yakni Orde Baru, maka menuntut seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Semakin kompleksnya masalah pembangunan, baik sebagai akibat peningkatan harapan masyarakat terhadap kehidupan yang lebih baik maupun dampak negatif dari pilihan strategis dan pelaksanaan pembangunan mengharuskan kita untuk senantiasa berfikir kreatif terhadap masalah –masalah pembangunan maupun kemasyarakatan sehingga dapat melahirkan sikap bangsa terhadap pentingnya kualitas sumber daya manusia. Sebagai organisasi kader, maka HMI dituntut untuk tanggap terhadap kecenderungan-kecenderungan ini, supaya HMI dapat berperaan Aktif dalam setiap pembangunan dan perkembangannya. Untuk itu tidaklah mengherankan jika HMI memberikan masukan yang berarti pada masa pembangunan ini diantaranya yaitu, menyatakan pernyataan PB HMI tentang lembaga kepresidenan dan lembaga UUD1945 yang isinya menyatakan dukungan HMI kepada Sidang Umum MPR untuk menetapkan Jenderal Soeharto untuk menjadi Presiden dan tidak mengubah UUD 1945, karena saat ada usaha untuk mengubah UUD sehingga menggoyahkan kepemimpinan Nasional. Di bidang pembinaan dan pembaharuan Umat, HMI memberikan masukan terhadap metode dakwah islam 1972, disamping itu juga memberikan masukan yang berarti mengenai undang-undang perkawinan 20 tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk pria. Di bidang kepemudaan HMI bersama-sama organisasi yang lain membentuk kelompok CipayungHMI,PMII,GMNI,GMKI,dan PMKRIsebagai wadah untuk menampung aspirasi pemuda sekaligus merupakan proses mendinamisasi kretifitas pemuda. Kelompok ini di bentuk tahun 1972. elain itu secara perorangan banyak alumni HMI yang duduk dipemerintahan, swasta, organisasi dan sebagainya. Dewan bidang kealian masing-masing untuk memberikan darma baktinya dan sumbangsihnya bagi pembangunan dan mengisi kemerdekaan RI. YakusaBlog- Dalam perjalanan perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam HMI, sepanjang sejarahnya, dari sejak berdirinya 1947 hingga kini, HMI telah mengalami dan melewati sebelas fase, antara lain Fase I Konsolidasi Spiritual dan Proses Berdirinya HMI 1946 Bermula dari latar belakang munculnya pemikiran dan berdirinya HMI serta kondisi obyektif yang mendorongnya, maka rintisan untuk mendirikan HMI muncul di bulan November 1946. Permasalahan yang dapat diangkat dari latar belakang berdirinya HMI, merupakan suatu kenyataan yang harus diantisipasi dan dijawab secara cepat dan konkrit dan menunjukkan apa sebenarnya Islam itu. Maka pembaharuan pemikiran di kalangan umat Islam bangsa Indonesia suatu keniscayaan. Fase II Berdirinya dan Pengokohan 5 Februari – 30 November 1947 Selama lebih kurang sembilan bulan, reaksi-reaksi terhadap HMI barulah berakhir. Masa sembilan bulan itu dipergunakan untuk menjawab berbagai reaksi dan tantangan silih berganti, yang semuanya itu untuk mengokohkan eksistensi HMI sehingga dapat berdiri tegar dan kokoh. Maka diadakanlah berbagai aktivitas untuk popularisasi organisasi dengan mengadakan ceramah-ceramah ilmiah dan rekreasi malam-malam kesenian. Di bidang organisasi, HMI mulai mendirikan cabang-cabang baru seperti Klaten, Solo, dan Yogyakarta. Pengurus HMI bentukan 5 Februari 1947 otomatis menjadi PB HMI pertama dan merangkap menjadi Pengurus HMI Cabang Yogyakarta I. Ada kesan bahwa keanggotaan HMI hanya untuk mahasiswa Sekolah Tinggi Islam STI. Untuk menghilangkan anggapan yang keliru itu, tanggal 22 Agustus 1947, PB HMI diresuffle. Ketua Lafran Pane digantikan oleh Mintaredja dari Fakultas Hukum BPT GM, sedankan Lafran Pane menjadi Wakil Ketua merangkap Ketua HMI Cabang Yogyakarta. Sejak itu mahasiswa BPT GM, STT mulai masuk dan berbondong-bondong menjadi anggota HMI. Di Yogyakarta tanggal 30 November 1947 diadakan Kongres I HMI. Fase III Perjuangan Bersenjata, Perang Kemerdekaan, Menghadapi Penghianatan dan Pemberontakan PKI 1947-1949 Seiring dengan tujuan HMI yang digariskan sejak awal berdirinya, maka konsekuensinya dalam masa perang kemerdekaan, HMI terjun ke gelanggang medan pertempuran melawan Belanda, membantu pemerintah baik langsung maupun memegang senjata bedil dan bambu runcing sebagai staf penerangan, penghubung dan lain-lain. Untuk menghadapi pemberontakan Madiun 18 September 1948, Ketua PMI/Wakil Ketua PB HMI Ahmad Tirtosudiro membentuk Corps Mahasiswa CM, dengan Komandan Hartono, Wakil Komandan Ahmad Tirtosudiro, ikut membantu pemerintah menumpas pemberontakan Partai Komunis Indonesia PKI di Madiun dengan menggerakkan anggota CM ke gunung-gunung, memperkuat aparat pemerintah. Sejak itulah dendam PKI terhadap HMI tertanam dan terus berlanjut sampai puncaknya pada tahun 1964-1965 yaitu gerakan pengganyangan terhadap HMI menjelang meletusnya Gestapu/PKI 1965. Pada fase ini berlangsung peringatan ulang tahun pertama HMI di Bangsal Kepatihan tanggal 6 Februari 1948. Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia Jenderal Sudirman memberi sambutan pada peringatan tersebut atas nama pemerintah Republik Indonesia. Jenderal Sudirman selain mengartikan HMI sebagai Himpunan Mahasiswa Islam, HMI juga diartikannya sebagai Harapan Masyarakat Indonesia. Karena mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam, HMI juga diartikan sebagai Harapan Masyarakat Islam Indonesia. Pada fase ini juga berlangsung Kongres Muslim Indonesia II di Yogyakarta tanggal 20 sampai dengan 25 Desember 1949. Kongres itu dihadiri oleh 185 organisasi, alim ulama dan intelegensia seluruh Indonesia. Di antara tujuh dari keputusannya dibidang organisasi salah satu keputusannya adalah memutuskan bahwa Hanya satu organisasi mahasiswa Islam, yaitu Himpunan Mahasiswa Islam HMI yang bercabang di tiap-tiap kota yang ada sekolah tinggi. Fase IV Pembinaan dan Pengembangan Organisasi 1950-1963 Selama anggota HMI banyak yang terjun ke gelanggang medan pertempuran membantu pemerintah mengusir penjajah, selama itu pula pembinaan organisasi HMI terabaikan. Namun hal itu dilaksanakan dengan sadar, karena itu semua untuk merealisir tujuan HMI sendiri, serta dwitugasnya yakni tugas agamanya dan tugas bangsanya. Maka dengan adanya pengakuan kedaulatan rakyat tanggal 27 Desember 1949, mahasiswa yang berminat melanjutkan kuliahnya bermunculan di Yogyakarta. Sejak tahun 1950, dilaksanakan usaha-usaha konsolidasi organisasi sebagai masalah besar sepanjang masa. Bulan Juli 1951 PB HMI dipindahkan dari Yogyakarta ke Jakarta. Diantara usaha-usaha yang dilaksanakan selama tiga belas tahun itu antara lain Pembentukan cabang-cabang baru, Menerbitkan majalah sejak 1 Agustus 1954 Sebelumnya terbit Criterium, Cerdas dan tahun 1959 menerbitkan majalah Media, Sudah tujuh kali Kongres HMI, Pengesahan atribut HMI seperti lambang, bendera, muts, hymne HMI, Merumuskan tafsir asas HMI, Pengesahan kepribadian HMI, Pembentukan Badan Koordinasi BADKO HMI, Menentukan metode pelatihan Training HMI., Pembentukan lembaga-lembaga HMI di bidang ekstern, Pendayagunakan PPMI., Menghadapi Pemilihan Umum Pemilu I tahun 1955, Penegasan Independensi HMI, Mendesak pemerintah supaya mengeluarkan UU PT, tuntutan agar pendidikan agama sejak dari Sekolah Rakyat SR sampai Perguruan Tinggi, Mengeluarkan konsep “peranan agama dalam pembangunan, dan lain-lainya. Selain masa internal, muncul pula persoalan eksternal yang sangat menonjol. Justru karena keberhasilan HMI melaksanakan konsolidasi organisasi ada golongan yang iri dan tidak senang kepada HMI yaitu Partai Komunis Indonesia PKI. Tidak dibubarkan dan dilarangnya PKI akibatnya pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, PKI otomatis mempunyai kesempatan untuk bangkit kembali. Tanggal 21 Februari tahun 1957, Presiden Soekarno mengumumkan konsepsinya supaya kabinet berkaki empat dengan unsur PNI, Masyumi, NU dan PKI sebagai 4 besar pemenang pemilu 1955. Berikutnya di Moscow tanggal 19 November 1957 dicetuskanlah Manfesto Moscow, yaitu satu program untuk mengkomunikasikan Indonesia. Akibat itu semua, PKI tampil sebagai partai pemerintah. Masyumi, akibat penentangan terhadap kebijakan politik Presiden Soekarno, dengan Manipol Usdeknya, dengan Keputusan Presiden nomor 200 tanggal 17 Agustus tahun 1960 Masyumi dipaksa bubar. Untuk menghadapi perkembangan politik, Kongres V HMI di Medan tanggal 24-31 Desember 1957 mengeluarkan dua sikap antara yaitu Haram hukumnya menganut ajaran dan paham komunikasi karena bertentangan Islam, yang kedua, Menuntut supaya Islam sebagai dasar negara. Buku dapat dipesan di Tokopedia. Klik Gambar Fase V Tantangan I 1964-1965 Dendam PKI terhadap HMI yang tertanam karena keikutsertaan HMI dalam menumpas pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, menempatkan HMI sebagai organisasi yang harus bubar, karena dianggap sebagai penghalang bagi tercapainya tujuan PKI. Untuk itulah dilaksanakanlah berbagai usaha untuk membubarkan HMI. Sesuai hasil Kongres II Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia CGMI, organisasi underbow PKI di Salatiga, Juni 1961, untuk melekuidisi HMI. PKI, CGMI dan organisasi lainnya yang seideologi mulai melakukan gerakan pembubaran HMI disokong seluruh simpatisan dari tiga partai besar yaitu Partai Komunis Indonesia PKI, Partai Indonesia PARTINDO dan Partai Nasional Indonesia PNI dan juga seluruh underbow ketiga partai tersebut yang semuanya berjumlah 42 partai. Untuk membubarkan HMI sekitar bulan Maret 1965, dibentuk Panitia Aksi Pembubaran HMI di Jakarta yang terdiri dari CGMI, GMNI, GRMINDO, GMD, MMI, Pemuda Marhaenis, Pemuda Rakyat, Pemuda Indonesia, PPI, dan APPI. Menjawab tantangan ini, Generasi Muda Islam GEMUIS yang terbentuk tahun1964 membentuk Panitia Solidaritas Pembebelaan HMI, yang terdiri dari unsur-unsur pemuda, pelajar, mahasiswa Islam seluruh Indonesia. Bagi umat Islam, HMI merupakan taruhan terakhir yang harus dipertahankan setelah sebelumnya Masyumi dibubarkan. Kalau HMI sampai dibubarkan, maka satu-persatu dari organisasi Islam akan terkena sapu pembubaran. Namun gerakan pembubaran HMI ini gagal justeru dipuncak usaha-usaha pembubarannya. Dalam acara penutupan Kongres CGMI tanggal 29 September 1965 di Istora Senayan. Meski PKI terus melakukan provokasi kepada Presiden Soekarno, seperti diungkapkan DN. Aidit, “Kalau anggota CGMI tidak bisa membubarkan HMI, anggota CGMI yang laki-laki lebih pakai kain sarung saja... kalau semua front garis depan-peny sudah minta, Presiden akan membubarkan HMI”. Namun ternyata HMI tidak dibubarkan, bahkan dengan tegas Presiden Soekarno mengungkapkan dalam pidatonya “Pemerintah mempunyai kebijakan untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada kehidupan organisasi mahasiswa yang revolusioner. Tapi kalau organisasi mahasiswa yang menyeleweng itu menjadi kontra revolusi umpamanya HMI, aku sendiri yang akan membubarkannya. Demikian pula kalau CGMI menyeleweng menjadi kontra revolusi juga akan kububarkan”. Karena gagal usaha untuk membubarkan HMI, maka PKI sudah siap bermain kekerasan. PKI takut didahului umat Islam untuk merebut kekuasaan dari pemerintahan yang sah, maka meletuslah Pemberontakan G 30 S/PKI 1965. Fase VI Kebangkitan HMI Sebagai Pejuang Orde Baru dan Pelopor Kebangkitan Angkatan ’66 1966-1968 Pada fase ini HMI mengalami dan melewati tantangannya, yaitu; tanggal 1 Oktober adalah tugu pemisah antara Orde Lama dan Orde Baru. Apa yang disinyalir PKI, seandainya PKI gagal membubarkan PKI, maka HMI akan tampil kedua kalinya menumpas pemberontakan PKI dan itu benar-benar terjadi. Wakil Ketua PB HMI Mar’ie Muhammad, pada tanggal 25 Oktober 1965 mengambil inisiatif mendirikan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia KAMI, sebagaimana yang dilakukan oleh Wakil Ketua PB HMI Ahmad Tirtosudiro membentuk Corps Mahasiswa CM untuk menghadapi pemberontakan PKI di Madiun. Tritura 10 Januari 1966 “Bubarkan PKI, Reatol Kabinet dan Turunkan Harga”. Surat Perintah Sebekas Maret 1966. Dibubarkan dan dilarangnya PKI tanggal 12 Maret 1966. Kabinet Ampera terbentuk, HMI diajak hearing pembentukan kabinet, dan alumni HMI masuk dalam kabinet. Fase VII Partisipasi HMI Dalam Pembangunan 1969-1970 Setelah Orde Baru mantap dan Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 sudah dilaksankan secara murni dan konsekuen, maka sejak tanggal 1 April 1969 dimulailah rencana pembangunan lima tahun Repelita-peny dan sudah menyelesaikan pembangunan 25 tahun pertama, kemudian menyusul pembangunan 25 tahun kedua. Pembangunan Indonesia menuju masyarakat adil dan makmur bukanlah pekerjaan mudah, tetapi sebaliknya merupakan pembangunan raksasa yang sangat sulit-peny sebagai usaha kemanusiaan yang tidak habis-habisnya. Partisipasi segenap warga negara sangat dibutuhkan. HMI pun sesuai dengan lima aspek pemikirannya, telah memberikan sumbangan dan partisipasinya dalam pembangunan a. Partisipasi dalam pembentukan suasan, situasi dan iklim yang memungkinkan dilaksanakannya pembangunan, b. Partisipasi dalam pemberian konsep-konsep di berbagai aspek pemikiran; pertisipasi dalam bentuk langsung dari pembangunan. FaseVIII Pergolakan dan Pembaharuan Pemikiran 1970-1998 Selama kurun waktu Orde Lama 1959-1965 kebebasan mengeluarkan pendapat baik yang bersifat akademis terlebih-lebih politik terkekang dengan ketat. Suasana itu berubah tatkala Orde Baru muncul, walaupun kebebasan hakiki belum diperoleh sebagaimana mestinya. Sama halnya dipenghujung pemerintahan Soeharto dianggap sebagai suatu perbedaan yang tidak pada tempatnya tidak ada keadilan-peny. Namun walaupun demikian, kebebasan datang, kondisi terbatas dapat dimanfaatkan, baik yang berkaitan dengan agama, akademik, dan politik. Kejumudan dan suasana tertekan pada masa Orde Lama mulai cair terutama dalam pembaharuan pemikiran Islam yang dipandang sebagai suatu keharusan, sebagai jawaban terhadap berbagai masalah untuk memenuhi kebutuhan kontemporer. Hal seperti itu muncul dikalangan HMI dan mencapai puncaknya pada tahun 1970. Tatkala Nurcholis Madjid dikenal panggilan Cak Nur-peny menyampaikan ide pembaharuannya dengan topik Keharusan Pembaharuan Pemikiran Dalam Islam Dan Masalah Integrasi Umat. Sikap itu diambil, karena apabila kondisi ini dibiarkan mengakibatkan persoalan-persoalan umat yang terbelenggu selama ini, tidak akan memperoleh jawaban yang efektif. Sebagai konsekuensinya muncul pergolakan pemikiran dalam tubuh HMI yang dalam berbagai substansi permasalahan timbul perbedaan pendapat, penafsiran dan interpretasi. Hal itu tercuat dalam bentuk seperti persoalan negara Islam, Islam Kaffah, sampai kepada penyesuaian dasar HMI dari Islam menjadi Pancasila. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 yang mengharuskan bahwa semua partai dan organisasi harus berdasarkan Pancasila. Kongres ke-16 HMI di Padang tahun 1986, HMI menyesuaikan diri dengan mengubah asas Islam dengan Pancasila. Akibat penyesuaian ini beberapa orang anggota HMI membentuk MPO Majelis Penyelamat Organisasi-peny, akibatnya HMI pecah menjadi dua yaitu HMI DIPO karena sekretriatnya di jln. Diponegoro dan sekarang sudah di Jl. Sultan Agung-peny dan HMI MPO. Fase IX Reformasi 1998-2000 Apabila dicermati dengan seksama secara secara historis HMI sudah mulai melaksanakan gerakan reformasi dengan menyampaikan beberapa pandangan yang berbeda serta kritik maupun evaluasi secara langsung terhadap pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto pada tahun 1995. Sesuai dengan kebijakan PB HMI, bahwa HMI tidak akan melakukan tindakan-tindakan inkonstitusional dan konfrontasi terhadap Pemerintah. HMI melakukan dan menyampaikan kritik secara langsung yang bersifat konstruktif. Koreksi dan kritik yang dimaksud, pertama, disampaikan M. Yahya Zaini Ketua Umum PB HMI Periode 1992-1995 ketika memberikan kata sambutan pada pembukaan Kongres HMI ke-20 HMI di Istana Negara Jakarta tanggal 21 Januari 1995. Koreksi itu antara lain, bahwa menurut penilaian HMI, pembangunan ekonomi kurang diikuti dengan pembanguna politik. Masih dirasakan tingkat perubahan pada sistem politik tidak sebanding dengan perubahan ekonomi. Dalam pembangunan politik istitusi-isntitusi politik atau badan-badan demokrasi belum maksimal memainkan fungsi perannya. Akibatnya aspirasi masyarakat masih sering tersumbat terhalang atau tidak sampai-peny. Kondisi inilah yang menuntut kita, pemerintah dan masyarakat untuk terus menggelindingkan mewujudkan-peny proses demokrasi dengan bingkai Pancasila tetapi ini harus diikuti dengan pemberdayaan masyarakat. Dalam suasana demikian, proses saling kontrol akan terbangun. Selain itu HMI melihat masih banyak distorsi dalam proses pembangunan. Gejala penyalah gunaan kekuasaan, kesewenang-wenangan, praktek kolusi, korupsi dan nepotisme KKN-peny adalah cerminan tidak berfungsi sistem nilai yang menjadi kontrol dan landasan etika dan bekerjanya suatu sistem. Suatu reformasi berikutnya dengan fokus yang lebih tajam, lugas dihadapan Presiden Soeharto tatkala menghadiri dan memberikan sambutan pada peringatan Ulang Tahun Emas 50 tahun HMI di Jakarta tanggal 20 Maret 1997 satu tahun sebelum reformasi, dimana Taufik Hidayat Ketua Umum PB HMI 1995-1997 menegaskan; sekaligus jawaban atas kritik-kritik yang memandang HMI terlalu dekat dengan kekuasaan. Bagi HMI, kekuasaan atau politik bukanlah wilayah yang haram, politik justeru mulia, apabila dijalankan di atas etika dan bertujuan untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Lantaran itu, HMI akan mendukung kekuasaan pemerintah yang sungguh-sungguh dalam meperjuangkan kebenaran dan keadilan. Sebaliknya, HMI akan tampil ke depan menentang kekuasaan yang korup dan menyeleweng. Inilah dibuktikan ketika HMI terlibat aktif dalam merintis dan menegakkan Orde Baru. Demikian juga pada saat sekarang ini dan masa-masa yang mendatang. Kritik-kritik ini tidak boleh mengurangi rasa percaya diri HMI untuk tetap melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar. Pemikiran dan reformasi selanjutnya disampaikan Ketua Umum PB HMI 1997-1998 Anas Urbaningrum pada waktu peringatan Ulang Tahun HMI ke-51 di Graha Insan Cita Depok tanggal 22 Februari 1998, dengan judul Urgensi Reformasi Bagi Pembangunan Bangsa Yang Bermartabat. Pidato itu disampaikan 3 bulan sebelum lengsernya Presiden Soeharto 21 Mei 1998. Suara dan tuntutan reformasi telah dikumandangkan pula dalam berbagai aspek, yang disamapaikan Anas Urbaningrum pada peringatan ulang tahun ke-52 di Auditorium Sapta Pesona Departemen Parawisata Seni dan Budaya Jakarta 5 Februari 1999, dengan judul Dari HMI Untuk Kebersamaan Bangsa Menuju Indonesia Baru. Tuntutan reformasi juga disampaikan Ketua Umum PB HMI M. Fahruddin pada peringatan Ulangtahun HMI ke-53 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, 5 Februari 2000 dengan judul “Merajut Kekuasaan Oposisi Membangun Demokrasi, Membangun Peradaban Baru Indonesia.” Fase X Tantangan II 2000-sekarang Fase tantangan kedua ini muncul justru setelah Orde Reformasi berjalan dua tahun. Semestinya berdasarkan landasan-landasan atau sikap-sikap yang telah diambil PB HMI memasuki era reformasi semestinya HMI mengalami perkembangan yang signifikan menjawab berbagai tantangan sesuai dengan perannya sebagai organisasi perjuangan yang harus tampil sebagai pengambil inisiatif dalam memajukan kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Akan tetapi justru sebaliknya HMI secara umum mengalami kemunduran, yang secara intensif disinyalir Agussalim Sitompul dalam bukunya 44 Indikator Kemunduruan HMI. Jika pada fase tantangan I 1964-1965 HMI dihadapkan pada tantangan eksternal yaitu menghadapi PKI, pada fase tantangan II ini HMI dihadapkan sekaligus pada dua tantangan besar secara internal dan eksternal sekaligus. Pertama, tantangan internal. Kajian tentang HMI saat ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan sekarang dan mendatang, HMI ditantang a. Masalah eksistensi dan keberadaan HMI, seperti menurunnya jumlah mahasiswa baru masuk HMI, tidak terdapatnya HMI diberbagai perguruan tinggi, institut, fakultas, akademi, program studi, sebagai basis HMI. b. Masalah relevansi pemikiran-pemikiran HMI, untuk melakukan perbaikan dan perubahan yang mendasar terhadap berbagai masalah yang muncul yang dihadapi bangsa Indonesia. c. Masalah peran HMI sebagai organisasi perjuangan yang sanggup tampil dalam barisan terdepan sebagai avent grade, kader pelopor bangsa dalam mengambil inisiatif untuk melakukan berbagai perubahan yang sangat dibutuhkan masyarakat. d. Masalah efektifitas HMI untuk memecahkan masalah yang dihadapi bangsa, karena banyak organisasi yang sejenis maupun yang lain, yang dapat dapat tampil lebih efektif dan dapat mengambil inisiatif terdepan untuk memberi solusi terhadap problem yang dihadapi bangsa Indonesia. Sebagai jawabannya, menurut perpecahan yang bersifat teoritis dan praktis, akan tetapi semuanya bersifat konseptual, integratif, inklusif. Sebab pendekatan yang tidak konseptual, parsial dan ekslusif tidak akan melahirkan jawaban yang efektif. Untuk itu dibutuhkan ide dan pemikiran dari anggota aktifitas kader, dan pengurus HMI di seluruh jenjang organisasi. Kedua, tantangan eksternal. Berbagai tantangan eksternal juga dihadapkan kepada HMI yang tidak skala besar dan rumitnya dari tantangan internal, antara lain a. Tantangan menghadapi perubahan jaman yang jauh berbeda dari abad ke-20 dan yang muncul pada abad ke-21 ini. b. Tantangan terhadap peralihan generasi yang hidup dalam jaman dan situasi yang berada dalam berbagai aspek kehidupan khususnya yang dijalani generasi muda bangsa. c. Tantangan untuk mempersiapkan kader-kader dan alumni HMI, yang akan menggantikan alumni-alumni HMI yang saat ini menduduki berbagai posisi strategis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena regenerasi atau pergantian pejabat-pejabat, suka tidak suka, mau tidak mau, pasti terus berlangsung. d. Tantangan menghadapi bahaya abadi komunis. e. Tantangan menghadapi golongan lain, yang mempunyai misi lain dari umat Islam dan bangsa Indonesia. f. Tantangan tentang adanya kerawanan aqidah. g. Tantangan menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang terus berkembang tanpa henti. h. Tantangan menghadapi perubahan dan pembaharuan di segala aspek kehidupan manusia yang terus berlangsung sesuai dengan semangat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat kompetitif. i. Tantangan menghadapi masa depan yang belum dapat diketahui bentuk dan coraknya. j. Kondisi umat Islam di Indonesia yang dalam kondisinya belum bersatu. k. Kondisi dan keadaan Perguruan Tinggi serta dunia kemahasiswaan, kepemudaan, yang penuh dengan berbagai persoalan dan problematika yang sangat kompleks. l. Tantangan HMI menuju Masyarakat Ekonomi Asean peny. m. Tantangan menghadapi politik Indonesia yang tidak kondusif dan tidak membangun karakter kebangsaan Indonesia. Pada fase tantangan II ini, nampaknya HMI semakin memudar dan mundur yang telah berlangsung 25 tahun sejenak, dari tahun 1980-2005. HMI tidak mampu bangkit secara signifikan, bahkan dalam dua periode terakhir PB HMI mengalami perpecahan. Karena itu, menghadapi tantangan tersebut, HMI dengan segenap aparatnya harus mampu menghadapinya dengan penuh semangat dan militansi yang tinggi. Apakah HMI mampu menghadapi tantangan itu, sangat ditentukan oleh pemegang kendali organisasi sejak dari PB HMI, Pengurus Badko HMI, Cabang HMI, Korkom HMI, Komisariat, Lembaga-Lembaga Kekaryaan, serta segenap anggota HMI, maupun alumninya yang tergabung dalam KAHMI sebagai penerus, pelanjut serta penyempurna mission sacre HMI. Peralihan jaman, peralihan generasi, saat ini menentukan bagi eksistensi HMI di masa mendatang. Fase XI Kebangkitan Kembali Gelombang kritik terhadap HMI tentang kemundurannya telah menghasilkan dua umpan balik. Pertama, telah muncul kesadaran individual dan kesadaran kolektif bersama-peny di kalangan anggota, aktivis, kader, bahkan alumni HMI serta pengurs dimulai dari Komisariat sampai PB HMI, bahwa HMI sedang mengalami kemunduran. Kedua, selanjutnya dari kesadaran itu muncul kesadaran baru, baik secara individual dan kesadaran bersama dikalangan anggota, aktivis, kader, alumni dan pengurus bahwa dalam tubuh HMI mutlak dilakukan perubahan dan pembaharuan supaya dapat bangkit kembali seperti masa jaya-jaya dulu. Sampai sejauh mana kebenaran dan bukti adanya indikator-indikator kebangkitan kembali HMI, sejarahlah yang akan menentukan kelak. Kita semua berharap dengan penuh optimis sesuai dengan ajaran Islam supaya manusia bersikap optimis, agar HMI dapat mengakhiri masa kemundurannya dan memasuki masa kebangkitannya secara meyakinkan. Di tangan generasi sekaranglah sebagai generasi penerus, pelanjut, dan penyempurna perjuangan organisasi mahasiswa Indonesia tertua ini HMI. Yakinkan dengan Iman, Usahakan dengan Ilmu, Sampaikan dengan Amal, Bahagia HMI, Jayalah Kohati, Yakin Usaha Sampai.[] net/Ilustrasi Sumber Berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam HMI diprakasai oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa STI Sekolah Tinggi Islam, kini UII Universitas Islam Indonesia yang masih duduk ditingkat I yang ketika itu genap berusia 25 tahun. Tentang sosok Lafran Pane, dapat diceritakan secara garis besarnya antara lain bahwa Pemuda Lafran Pane lahir di Sipirok-Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Beliau adalah anak seorang Sutan Pangurabaan Pane –tokoh pergerakan nasional “serba komplit” dari Sipirok, Tapanuli Selatan. Lafaran Pane adalah sosok yang tidak mengenal lelah dalam proses pencarian jati dirinya, dan secara kritis mencari kebenaran sejati. Lafran Pane kecil, remaja dan menjelang dewasa yang nakal, pemberontak, dan “bukan anak sekolah yang rajin” adalah identitas fundamental Lafran sebagai ciri paling menonjol dari Independensinya. Sebagai figur pencarai sejati, independensi Lafran terasah, terbentuk, dan sekaligus teruji, di lembaga-lembaga pendidikan yang tidak Ia lalui dengan “Normal” dan “lurus” itu Walau Pemuda Lafran Pane yang tumbuh dalam lingkungan nasionalis-muslim terpelajar pernah juga menganyam pendidikan di Pesantren Ibtidaiyah, Wusta dan sekolah Muhammadiyah ; pada hidup berpetualang di sepanjang jalanan kota Medan, terutama di kawasan Jalan Kesawan; pada kehidupan dengan tidur tidak menentu; pada kaki-kaki lima dan emper pertokoan; juga pada kehidupan yang Ia jalani dengan menjual karcis bioskop, menjual es lilin, dll. Dari perjalanan hidup Lafran dapat diketahui bahwa struktur fundamental independensi diri Lafran terletak pada kesediaan dan keteguhan Dia untuk terus secara kritis mencari kebenaran sejati dengan tanpa lelah, dimana saja, kepada saja, dan kapan saja. Adapun latar belakang pemikirannya dalam pendirian HMI adalah “Melihat dan menyadari keadaan kehidupan mahasiswa yang beragama Islam pada waktu itu, yang pada umumnya belum memahami dan mengamalkan ajaran agamanya. Keadaan yang demikian adalah akibat dari sitem pendidikan dan kondisi masyarakat pada waktu itu. Karena itu perlu dibentuk organisasi untuk merubah keadaan tersebut. Organisasi mahasiswa ini harus mempunyai kemampuan untuk mengikuti alam pikiran mahasiswa yang selalu menginginkan inovasi atau pembaharuan dalam segala bidang, termasuk pemahaman dan penghayatan ajaran agamanya, yaitu agama Islam. Tujuan tersebut tidak akan terlaksana kalau NKRI tidak merdeka, rakyatnya melarat. Maka organisasi ini harus turut mempertahankan Negara Republik Indonesia kedalam dan keluar, serta ikut memperhatikan dan mengusahakan kemakmuran rakyat” Namun demikian, secara keseluruhan Latar Belakang Munculnya Pemikiran dan Berdirinya HMI dapat dipaparkan secara garis besar karena faktor, sebagai berikut Penjajahan Belanda atas Indonesia dan Tuntutan Perang Kemerdekaan Aspek Politik Indonesia menjadi objek jajahan Belanda Aspek Pemerintahan Indonesia berada di bawah pemerintahan kerajaan Belanda Aspek Hukum Hukum berlaku diskriminatif Aspek pendidikan Proses pendidikan sangat dikendalikan oleh Belanda. Aspek ekonomi Bangsa Indonesia berada dalam kondisi ekonomi lemah Aspek kebudayaan masuk dan berkembangnya kebudayaan yang bertentangan dengan kepribadian Bangsa Indonesia Aspek Hubungan keagamaan Masuk dan berkembagnya Agama Kristen di Indonesia, dan Umat Islam mengalami kemunduran Adanya Kesenjangan dan kejumudan umat dalam pengetahuan, pemahaman, dan pengamalan ajaran islam. Kebutuhan akan pemahaman dan penghayatan Keagamaan Munculnya polarisasi politik. Berkembangnya fajam dan Ajaran komunis Kedudukan perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan yang strategis Kemajemukan Bangsa Indonesia Tuntutan Modernisasi dan tantangan masa depan HMI Kongres SoloHMI Perjuangan FisikKongres HMILafran-panePembukaan Kongres HMIPeran HMIDokumentasi HMI 60anDokumentasi HMI 60an Peristiwa Bersejarah 5 Februari 1947 Setelah beberapa kali mengadakan pertemuan yang berakhir dengan kegagalan. Lafran Pane mengadakan rapat tanpa undangan, yaitu dengan mengadakan pertemuan secara mendadak yang mempergunakan jam kuliah Tafsir. Ketika itu hari Rabu tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan dengan 5 Februari 1947, disalah satu ruangan kuliah STI di Jalan Setiodiningratan sekarang Panembahan Senopati, masuklah mahasiswa Lafran Pane yang dalam prakatanya dalam memimpin rapat antara lain mengatakan “Hari ini adalah pembentukan organisasi Mahasiswa Islam, karena persiapan yang diperlukan sudah beres. Yang mau menerima HMI sajalah yang diajak untuk mendirikan HMI, dan yang menentang biarlah terus menentang, toh tanpa mereka organisasi ini bisa berdiri dan berjalan” Lafran Pane mendirikan HMI bersama 14 orang mahasiswa STI lannya, tanpa campur tangan pihak luar. Pada awal pembentukkannya HMI bertujuan diantaranya antara lain Mempertahankan dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Sementara tokoh-tokoh pemula / pendiri HMI antara lain Lafran Pane Yogya Karnoto Zarkasyi Ambarawa, Dahlan Husein Palembang, Siti Zainah istri Dahlan Husein-Palembang Maisaroh Hilal Cucu Soewali Jember, Yusdi Ghozali Juga pendiri PII-Semarang, Mansyur, Anwar Malang, Hasan Basri Surakarta, Marwan Bengkulu, Zulkarnaen Bengkulu, Tayeb Razak Jakarta, Toha Mashudi Malang, Bidron Hadi Yogyakarta. FASE-FASE PERKEMBANGAN SEJARAH HMI Fase Konsolidasi Spiritual 1946-1947 Sudah diterangkan diatas Fase Pengokohan 5 Februari 1947 – 30 November 1947 Selama lebih kurang 9 sembilan bulan, reaksi-reaksi terhadap kelahiran HMI barulah berakhir. Masa sembilan bulan itu dipergunakan untuk menjawab berbagai reaksi dan tantangan yang datang silih berganti, yang kesemuanya itu semakin mengokohkan eksistensi HMI sehingga dapat berdiri tegak dan kokoh. Fase Perjuangan Bersenjata 1947 – 1949 Seiring dengan tujuan HMI yang digariskan sejak awal berdirinya, maka konsekuensinya dalam masa perang kemerdekaan, HMI terjun kegelanggang pertempuran melawan agresi yang dilakukan oleh Belanda, membantu Pemerintah, baik langsung memegang senjata bedil dan bambu runcing, sebagai staff, penerangan, penghubung. Untuk menghadapi pemberontakkan PKI di Madiun 18 September 1948, Ketua PPMI/ Wakil Ketua PB HMI Ahmad Tirtosudiro membentuk Corps Mahasiswa CM, dengan Komandan Hartono dan wakil Komandan Ahmad Tirtosudiro, ikut membantu Pemerintah menumpas pemberontakkan PKI di Madiun, dengan mengerahkan anggota CM ke gunung-gunung, memperkuat aparat pemerintah. Sejak itulah dendam kesumat PKI terhadap HMI tertanam. Dendam disertai benci itu nampak sangat menonjol pada tahun \’64-\’65, disaat-saat menjelang meletusnya G30S/PKI. Fase Pertumbuhan dan Perkembangan HMI 1950-1963 Selama para kader HMI banyak yang terjun ke gelanggang pertempuran melawan pihak-pihak agresor, selama itu pula pembinaan organisasi terabaikan. Namun hal itu dilakukan secara sadar, karena itu semua untuk merealisir tujuan dari HMI sendiri, serta dwi tugasnya yakni tugas Agama dan tugas Bangsa. Maka dengan adanya penyerahan kedaulatan Rakyat tanggal 27 Desember 1949, mahasiswa yang berniat untuk melanjutkan kuliahnya bermunculan di Yogyakarta. Sejak tahun 1950 dilaksankanlah tugas-tugas konsolidasi internal organisasi. Disadari bahwa konsolidasi organisasi adalah masalah besar sepanjang masa. Bulan Juli 1951 PB HMI dipindahkan dari Yogyakarta ke Jakarta. Fase Tantangan 1964 – 1965 Dendam sejarah PKI kepada HMI merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi HMI. Setelah agitasi-agitasinya berhasil membubarkan Masyumi dan GPII, PKI menganggap HMI adalah kekuatan ketiga ummat Islam. Begitu bersemangatnya PKI dan simpatisannya dalam membubarkan HMI, terlihat dalam segala aksi-aksinya, Mulai dari hasutan, fitnah, propaganda hingga aksi-aksi riil berupa penculikan, dsb. Usaha-usaha yang gigih dari kaum komunis dalam membubarkan HMI ternyata tidak menjadi kenyataan, dan sejarahpun telah membeberkan dengan jelas siapa yang kontra revolusi, PKI dengan puncak aksi pada tanggal 30 September 1965 telah membuatnya sebagai salah satu organisasi terlarang. Fase Kebangkitan HMI sebagai Pelopor Orde Baru 1966 – 1968 HMI sebagai sumber insani bangsa turut mempelopori tegaknya Orde Baru untuk menghapuskan orde lama yang sarat dengan ketotaliterannya. Usaha-usaha itu tampak antara lain HMI melalui Wakil Ketua PB Mari\’ie Muhammad memprakasai Kesatuan Aksi Mahasiswa KAMI 25 Oktober 1965 yang bertugas antara lain Mengamankan Pancasila. Memperkuat bantuan kepada ABRI dalam penumpasan Gestapu/ PKI sampai ke akar-akarnya. Masa aksi KAMI yang pertama berupa Rapat Umum dilaksanakan tanggal 3 Nopember 1965 di halaman Fakultas Kedokteran UI Salemba Jakarta, dimana barisan HMI menunjukan superioitasnya dengan massanya yang terbesar. Puncak aksi KAMI terjadi pada tanggal 10 Januari 1966 yang mengumandangkan tuntutan rakyat dalam bentuk Tritura yang terkenal itu. Tuntutan tersebut ternyata mendapat perlakuan yang represif dari aparat keamanan sehingga tidak sedikit dari pihak mahasiswa menjadi korban. Diantaranya antara lain Arif rahman Hakim, Zubaidah di Jakarta, Aris Munandar, Margono yang gugur di Yogyakarta, Hasannudin di Banjarmasin, Muhammad Syarif al-Kadri di Makasar, kesemuanya merupakan pahlawan-pahlawan ampera yang berjuang tanpa pamrih dan semata-mata demi kemaslahatan ummat serta keselamatan bangsa serta negara. Akhirnya puncak tututan tersebut berbuah hasil yang diharap-harapkan dengan keluarnya Supersemar sebagai tonggak sejarah berdirinya Orde Baru. Fase Pembangunan 1969 – 1970 Setelah Orde Baru mantap, Pancasila dilaksanakan secara murni serta konsekuen meski hal ini perlu kajian lagi secara mendalam, maka sejak tanggal 1 April 1969 dimulailah Rencana Pembangunan Lima Tahun Repelita. HMI pun sesuai dengan 5 aspek pemikirannya turut pula memberikan sumbangan serta partisipasinya dalam era awal pembagunan. Bentuk-bentuk partisipasi HMI baik anggotanya maupun yang telah menjadi alumni meliputi diantaranya Partisipasi dalam pembentukan suasana, situasi dan iklim yang memungkinkan dilaksanakannya pembangunan, Partisipasi dalam pemberian konsep-konsep dalam berbagai aspek pemikiran Partisipasi dalam bentuk pelaksana langsung dari pembangunan. Fase Pergolakan dan Pembaharuan Pemikiran 1970 – 1998 Suatu ciri khas yang dibina oleh HMI, diantaranya adalah kebebasan berpikir dikalangan anggotanya, karena pada hakikatnya timbulnya pembaharuan karena adanya pemikiran yang bersifat dinamis dari masing-masing individu. Disebutkan bahwa fase pergolakan pemikiran ini muncul pada tahun 1970, tetapi geja-gejalanya telah nampak pada tahun 1968. Namun klimaksnya memang terjadi pada tahun 1970 dimana secara relatif masalah-masalah intern organisasi yang rutin telah terselesaikan. Sementara dilain sisi persoalan ekstern muncul menghadang dengan segudang problema. Pada tahun 1970 Nurcholis Madjid menyampaikan ide pembaharuan dengan topic keharusan pembaharuan didalam pemikiran Islam dan masalah integritas umat. Sebagai konsekuensinya di HMI timbul pergolakan pemikiran dalam berbagai substansi permasalahan yang. Perbedaan pendapat dan penafsiran menjadi dinamika di dalam menginterpretasikan dinamika persoalan kebangsaan dan keumatan. Hal ini misalnya dalam dialektika dan perbincangan seputar Negara dan Islam, konsep Negara Islam, persoalan Islam Kaffah sampai pada penyesuaian dasar HMI dari Islam menjadi Pancasila sebagai bentuk ijtihad organisasi didalam mempertahankan cita-cita jangka panjang keummatan dan kebangsaan. Fase Reformasi Secara histories sejak tahun 1995 HMI mulai melaksanakan gerakan reformasi dengan menyampaikan pandangan, gagasan dan kritik terhadap pemerintahan. Sesuai dengan kebijakan PB HMI bahwa HMI tidak akan melakukan tindakan-tindakan inkonstitusional dan konfrontatif. Gerakan koreksi pemerintahanpertama disampaikan pada jaman konggres XX HMI di Istana Negara tanggal 21 Januari 1995. kemudian peringatan MILAD HMI Ke 50 Saudara Ketua Umum Taufiq Hidayat menegaskan dan menjawab kritik-kritik yang menyebutkan bahwa HMI terlalu dekat dengan kekuasaan. Bagi HMI kekuasaan bukanlah wilayah yang haram. Tetapi adalah wilayah pencermatan dan kekritisan terhadap pemerintahan. Kemudian dalam penyampaian Anas Urbaningrun pada MILAD HMI ke 51 di Graha Insan Cita Depok tanggal 22 Pebruari 1998 dengan judul “Urgensi Reformasi bagi Pembangunan Bangsa Yang Bermartabat”. Anda juga bisa membaca lebih rinci tentang sejarah HMI di Wiki. Sejarah Singkat Berdirinya HMI di Indonesia - Himpunan Mahasiswa Islam merupakan salah satu organisasi kemahasiswaan yang ikut andil dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Salah satu tokohnya dan merupakan mahasiswa yang memprakarsai berdirinya HMI, Lafrane Pane, adalah seorang aktivis yang memiliki kualitas SDM yang bisa dibilang baik pada waktu itu serta kesadaran dalam dirinya atas mirisnya keadaan nasional dan mahasiswa islam pada waktu itu. Bagaimana HMI dapat berdiri di Indonesia? Berikut adalah Sejarah Singkat Berdirinya HMI di Singkat Berdirinya HMI di IndonesiaDalam sejarah HMI di Indonesia, ada beberapa aspek yang nanti akan mengantarkan kita dalam sejarah berdiri, berkembang, serta perjuangan HMI. Kita perlu memahaminya satu per satu agar dalam mempelajari suatu sejarah tidak terjadi salah pemahaman. Adapun aspek-aspek tersebut adalah 1 Latar belakang berdirinya HMI, 2 Berdirinya HMI, dan 3 Sejarah Perjuangan HMI terdiri dari fase-fase. Berikut penjelasannyaLatar Belakang Berdirinya HMI1. Situasi InternasionalTentang kemunduran umat islam sudah banyak sekali tulisan ataupun argumen yang sudah menjelaskan, dan itu sangat variatif, mulai dari dibakarnya perpustakaan Bait al Hikmah, serangan tentara Mongol, sampai kemunduran berpikir umat islam pada waktu itu. Dan dari semua argumen, yang paling mendekati kebenaran obyektif dan yang sesungguhnya terjadi adalah kemunduran berpikir umat islam karena terlena dengan masa kejayaannya. Budaya berpikir umat islam tidak lagi maju, alias dari kemandegan dalam berpikir iru, ada beberapa kelompok yang ingin melawan keterbatasan umat islam dalam menjalani keislamannya secara menyeluruh kaffah. Mereka menginginkan islam yang total, islam yang sesuai dengan al Quran dan Hadis. Arti dari silam keseluruhan menurut mereka adalah bahwa islam tidak hanya terbatas pada ritus keagamaan saja, melainkan juga segala kehidupan di dunia ini. Mereka menamakan gerakan yang mereka buat dengan Gerakan Gerakan tersebut juga memantik kelompok yang akhirnya juga mendirikan sebuah wadah, seperti di Negara Turki dan Mesir 1720 & 1807 M. Beberapa pimpinannya adalah Rifaah Badawi Ath Tahtawi 1801 – 1873 M, Muhammad Ibnu Abdul Wahhab pencetus Wahabi di Saudi Arabia 1703 – 1787, Muhammad Abduh 1849 – 1905 M, dan Situasi NKRIMasuknya imperialisme Barat ke Indonesia yang dipimpin oleh Cornelis De Hotman pada tahun 1596. Pada tahun itulah Indonesia mulai dijajah sampai 350 tahun lamanya, atau tiga setengah abad. Imperialisme Barat pada waktu itu membawa tiga 3 hal, yaituPenjajahanMisionaris. Yaitu upaya kristianisasi pribumi Barat atau yang biasa kita sebut dengan Westernisasi yang bercirikan sekulerisme dan liberalisme. 3. Kondisi Mikrobiologis Umat IslamSebelum HMI berdiri, di Indone terbagi empat 4 golongan umat islam yang menjadi latar belakang berdirinya HMI di Indonesia. Adapun empat 4 golongan tersebut adalah sebagai berikuta. Golongan PertamaGolongan pertama ini ialah mereka umat islam yang melaksanakan ajaran islam sekadarnya saja atau bisa disebut kultur islam yang wajib, seperti pernikahan, kematian, dan kelahiran Golongan KeduaGolongan kedua ini ialah para Alim Ulama serta pengikut-pengikutnya yang melaksanakan ajaran islam yang sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad Golongan KetigaGolongan ketiga ini ialah para Alim Ulama serta pengikut-pengikutnya yang terjerembab pada mistisisme, yaitu mereka menitiberatkan ajaran islam dalam kehidupan di dunia hanya berfokus pada akhirat Golongan KeempatGolongan yang terakhir ini ialah golongan kecil umat islam yang dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, hal ini sesuai dengan prinsip agama islam. Mereka memiliki keinginan dan berupaya agar ajaran islam dapat diimplementasikan di Indonesia sesuai dengan sosio-kultur Kondisi Perguruan Tinggi Serta Dunia KemahasiswaanSebelum HMI berdiri, ada dua 2 faktor yang memberi corak dalam perguruan tinggi serta kemahasiswaan. Adapun dua 2 faktor tersebut adalah sebagai berikuta. Sistem PendidikanAdapun sistem pendidikan pada waktu itu, khususnya di perguruan tinggi dan umumnya pendidikan, memakai sistem barat, yang mana sistem tersebut mengarah kepada tumbuhnya sekularisme mengenyampingkan agama di segala aspek kehidupan dalam diri peserta Organisasi KemahasiswaanAda dua 2 organisasi kemahasiswaan yang berjalan di bawah PKI Partai Komunis Indonesia, yaitu Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta PMY dan Serikat Mahasiswa Indonesia SMI. Bergabung dua 2 faham sekulerisme dan komunisme ini memicu terjadinya “Krisis Keseimbangan” karena melanda perguruan tinggi dan kemahasiswaan. Krisis kesimbangan yang terjadi pada akhirnya akan membuat rancu, karena antara akal dan hati, jasmani dan rohani, dan kebutuhan antara duniawi dan ukhrowi tidak HMI1. Latar Belakang Munculnya PemikiranHMI berdiri merupakan prakarsa dari seorang mahasiswa tingkat I Sekolah Tinggi Islam Sekarang Universitas Islam Indonesia yang bernama Lafran Pane. Secara garis besar, Lafran Pane merupakan anak keenam dari Sultan Pangaribaan Pane. Dia lahir di Sidempuan pada tanggal 5 Februari 1922. Masa mudanya dia pernah mengenyam pendidikan di Pesantren, Ibtidaiyah, Wusta, dan sekolah Muhammadiyah. Latar belakang berdirinya HMI dari pemikirannya adalah “Memandang serta menyadari keadaan hidup mahasiswa muslim yang tidak sepenuhnya paham dan mengamalkan ajaran islam”. Keadaan tersebut timbul karena sistem pendidikan dan situasi masyarakat pada masa itu, sehingga membuat sebuah wadah organisasi menjadi sebuah yang akan didirikan tersebut harus memiliki SDM yang mampu mengikuti alam pemikiran dan pikiran mahasiswa tentang keinginan untuk menuju sebuah pembaharuan atau inovasi dalam segala bidang kehidupan, lebih-lebih dalam aspek keagamaan. Dan tujuan tersebut tidak akan pernah terealisasi jika Indonesia tidak bebas, tidak merdeka, rakyatnya tidak makmur. Oleh karena itu, organisasi ini harus mempertahankan NKRi dan berusaha memakmurkan rakyat Peristiwa 5 Februari 1947Beberapa kali agenda rapat yang diadakan oleh Lafran Pane terjadi kegagalan, sehingga akhirnya dia membuat rapat dadakan yang diadakan ketika jam kuliah Tafsir. Rapat tersebut pada hari Rabu 14 rabiul Awal 1366 H, tepatnya pada 5 Februari 1947 di salah satu ruang kelas di STI, jalan Setiodiningratan sekarang Panembahan Senopati. Akhirnya mahasiswa-mahasiswa lainnya pun masuk ruangan tersebut. Dalam prakatanya, Lafran Pane yang memimpin berkata “Hari ini adalah pembentukan organisasi Mahasiswa Islam, karena segala sesuatu yang diperlukan sudah beres. Yang mau menerima adalah yang akan diajak mendirikan HMI, dan yang menentang biar terus menentang, toh tanpa mereka, organisasi ini bisa berdiri dan berjalan”.Ada 15 tokoh yang ikut andil dalam pendirian HMI, antara laina. Lafran Pane Yogyakartab. Karnoto Zarkasyi Ambarawac. Dahlan Husein Palembangd. Siti Zaenab Palembange. Maisaroh Hilal Singapurof. Soewali Jemberg. Yusdi Ghozali Semarangh. M. Anwar Malangi. Hasan basri Surakartaj. Marwan Bengkuluk. Tayeb Razak Jakartal. Toha Mashudi Malangm. Bidron Hadi Kauman-Yogyakartan. Zulkarnaen Bengkuluo. Mansyur Perjuangan HMIDalam perjuangannya, HMI sebagai organisasi kemahasiswaan yang tidak luput dari gejolak mengalami sembilan 9 fase dalam perkembangannya. Berikut ini adalah fase-fase yang dijalani HMI dalam sejarah perjuangan Fase Konsolidasi November 1946 – 5 Februari 1947Seperti diterangkan di atas, ketika Lafran Pane mendadak mengadakan rapat di salah satu ruang kelas, di situ dan pada waktu itu juga HMI resmi didirikan, tepatnya pada 5 Februari Fase Pengokohan 5 Februari 1947 – 30 November 1947Berjalannya HMI yang masih belia mengadakan aktivitas-aktivitas serta sosialisasi kepada mahasiwa dan masyarakat. Dalam Kongres Mahasiswa seluruh Indonesia yang diadakan di Malang pada 8 Maret 1947, HMI mendelegasikan Lafran Pane dan Asmin Nasution. Kongres ini merupakan kesempatan besar bagi HMI agar dikenal oleh mahasiswa seluruh beberapa bulan setelah Kongres, HMI berdiri di beberapa cabang, yaitu di Solo dan Malang. Di umur HMI yang masih sangat belia, yaitu sembilan 9 bulan, HMI mengadakan Kongres I di Yokyakarta yang bertepatan pada 30 November 1947. Dalam Kongres I HMI tersebut, MS. Mintaredja terpilih menjadi Ketua PB Fase Perjuangan Fisik 30 November – 27 Desember 1949HMI lahir pada situasi yang terbilang tidak baik, yaitu pada saat Indonesia yang walaupun sudah memproklamirkan kemerdekaannya, masih saja terus dijajah. HMI ikut serta dalam mengusir para penjajah, sampai pada 27 Desember 1949 Indonesia mencapai kedaulatan terjadi pengkhianatan oleh PKI di Madiun 18 Spetember 1948, HMI ikut andil dalam penumpasan pemberontakan itu. Sejak Affair Madiun tersebut PKI memiliki dendam terhadap Fase Pembinaan dan Konsolidasi Organisasi 1950 – 1963Merupakan keputusan yang bijak ketika pusat kantor PB HMI dipindah dari Yogyakarta ke Jakarta pada tahun 1951 bulan Juli, dan Lukman E. Hakim ditunjuk menjadi ketua PB HMI menggantikan Mintaredja, dan Sekjen digantikan oleh dalam memimpin HMI, Lukman E. Hakim tidak dapat memimpin secara sempurna, dan akhirnya menyerahkan kepemimpinan kepadaA. Dahlan Ranuwihardja, sehingga dengan terpaksa HMI mengadakan Kongres Luar Biasa darurat. Kongres darurat tersebut akhirnya disahkan sebagai Kongres II HMI di Yogyakarta pada 15 Desember Dahlan Ranuwihardja terpilih menjadi ketua umum PB HMI periode 1951 – 1953 ditemani M. Rajab Lubis sebagai sekretaris umumnya. Pada periode ini HMI fokus kepada pembinaan anggota, yaitu dengan membentuk basis-basis yang terdiri dari komisariat, cabang, badan koordinator badko, dan lembaga-lembaga Fase Tantangan dan Pengkhianatan 1964 – 1965Karena menurut PKI, HMI merupakan musuh, sehingga CGMI organisasi mahasiswa di bawah naungan PKI diberi mandat oleh mereka untuk membubarkan HMI. Puncak dari aksi tuntutan pembubaran HMI terjadi pada bulan September 1965. Jika DN. Aidit Ketua CC PKI pada 13 September 1965 diberi gelar Bintang Mahaputra, pada saat yang sama Generasi Muda Islam Jakarta Raya menunjukkan solidaritasnya untuk bersama membela HMI. Setelah empat hari, HMI dinyatakan jalan terus, artinya tidak dibubarkan, hal itu terjadi atas keputusan komando tertinggi Retoling Aparatur Revolusi atau Kotrar Bung Karno.Pada tanggal 30 September 1965, akhirnya PKI mengambil jalan pintas dengan melakukan tindak kekerasan. Makar yang dilakukan oleh PKI mereka sebut dengan Gerakan 30 September atau G30S. Namun ABRI dan rakyat Indonesia yang anti terhadap PKI akhirnya dapat menggulung G30S/PKI dengan waktu yang relatif Fase Penggerak Angkatan 1966 Pelopor Orde Baru; 1966 – 1968Wakil Ketua PB HMI, Mar’ie Muhammad menyalurkan sebuah inisiatif untuk mendirikan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim sekaligus yang memprakarsai berdirinya pada 25 Oktober 1965. Prof. Dr. Syarif, Menteri PTIP mengesahkan organisasi tersebut dengan syarat 1 Mengamankan Pancasila, 2 memperkuat bantuan ABRI dalam penumpasan Gestapu/PKI sampai ke akar-akarnya. Massa aksi KAMI yang pertama diadakan berupa rapat umum yang dilaksanakan pada November 1965, tepat di halaman Fakultas Kedokteran UI Salemba, tanggal 10 Januari 1966 KAMI membentuk sebuah tuntutan yang terbungkus dalam Tritura yang berisi 1 Bubarkan PKI, 2 Retoling kabinet, dan 3 turunkan harga. Setelah KAMI berdiri, terbentuklah Kesatuan Aksi Pemuda pelajar Indonesia KAPPI pada 9 Februari 1966, yang dipimpin oleh M. Thamrin dari PII. Tuntutan kedua KAMI, yaitu retoling kabinet, oleh rezim orde lama dijawab dengan pembentukan kabinet Dwikora. Hal tersebut memicu kemarahan rakyat, sehingga mengundang aksi dan demonstrasi. Demonstrasi berlangsung selama sebelas hari, mulai 1 Maret hingga 11 Maret 1966. Dari terjadinya aksi mahasiswa dan rakyat itulah akhirnya Ir. Soekarno menciptakan Surat Sebelas Maret Supersemar. Keesokan harinya, tepat tanggal 12 Maret 1966 PKI dinyatakan dibubarkan dan dilarang beserta segala sayapnya. Setelah Ir. Soekarno turun dan digantikan oleh Jendral Soeharto dalam memimpin Indonesia, HMI turut mendukung pemerintahan yang Fase Partisipasi HMI dalam Pembangunan dan Modernisasi 1969 – 1970Ada tiga 3 bentuk partisipasi HMI dalam pembangunan Indonesia, yaitu 1 pembentukan suasana, situasi, dan iklim yang memungkinkan dilaksanakannya pembangunan, 2 pemberian konsep-konsep dalam berbagai aspek pemikiran, dan 3 bentuk pelaksanaan langsung dari pembangunan. Menurut M. Dawam, HMI pada masa orde baru masuk ke birokrasi dan secara tegas mendukung proses modernisasi. Namun menurutnya, HMI masuk ke dalam birokrasi tidak melalui diskusi-diskusi yang bersifat keilmuan intelektualitas, melainkan secara langsung andil dalam pembangunan. Bisa dikatakan kader-kader HMI pada waktu itu merupakan kader-kader yang Fase Pergolakan Pemikiran Sejak tahun 1968, gejala-gejala gejolak pemikiran sudah nampak sebelum akhirnya pada tahun 1970 benar-benar muncul. Para aktivis sejak 1970-an memikirkan bagaimana mereka mendapatkan substansi bukannya bentuk. Adapun tema yang menjadi titik perhatian mereka pada waktu itu adalah 1 Peninjauan kembali landasan teologis atau filosofis politik islam, 2 pendefinisian kembali cita-cita politik islam, 3 peninjauan kembali tentang cara dan cita-cita politik dapat dicapai secara efektif. Seorang aktivis pasti memiliki sisi idealisme dan aktivisme. Dalam prosesnya, idelisme dan aktivisme mereka dapat dibagi dalam tiga 3 aspek 1 pembaharuan teologis, 2 reformasi politik atau birokrasi, dan 3 transformasi Fase Reformasi 1998 – SekarangPada fase ini, rezim orde baru menerapkan beberapa kebijakan yang selaras dengan kepentingan sosial-ekonomi dan politik umat islam. Selama beberapa tahun tidak lagi terjadi aksi, sampai pada tahun 1998 muncul gerakan reformasi. Krisis moneter yang terjadi merupakan salah satu yang memicu mahasiswa kembali turun ke jalan. Pada waktu itu nilai rupiah sangat melemah, semelemahnya rezim orde baru, sampai akhirnya nilai rupiah meningkatkan, Rp. per dolar meningkat menjadi Rp. per dolar. Hal tersebut membuat rezim orde baru kaget dan keadaan tidak dapat dikendalikan. Akhirnya reformasi berhasil dan Jenderal Soeharto turun dari jabatannya sebagai fase-fase yang dialami oleh HMI dari awal berdirinya sampai sekarang. Mungkin itu saja untuk pembahasan tentang Sejarah Singkat Berdirinya HMI di Indonesia. Semoga dapat memberi manfaat kepada rekan-rekan sekalian. Dan jika bagi rekna-rekan bermanfaat, bisa dibagikan ke banyak orang. Terimakasih.

fase fase perjuangan hmi